Jumat, 29 September 2017

Melaksanakan Refleksi Pembelajaran

Melaksanakan Refleksi Pembelajaran
(Ringkasan Materi KP 1 Modul J Pedagogik Program PKB 2017)

Indikator Pencapaian Kompetensi:
1.    Menjelaskan konsep, prinsip, tujuan, dan sasaran refleksi pembelajaran
2.    Melaksanakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan

Uraian Materi
1.    Konsep Refleksi Pembelajaran
Refleksi: memikirkan atau merenungkan kembali, menyelidiki pengalaman untuk membantu pemahaman dan apresiasi baru terhadap sesuatu hal tertentu. Pengalaman menjadi penting sebagai sumber melakukan perbaikan jika seseorang mau memahami setiap kejadian dan melihat dari sudut pandang berbeda.
Refleksi pembelajaran merupakan tindakan guru untuk me-review dan introspeksi terhadap proses belajar mengajar yang telah dilakukan, meliputi perencanaan, keterlaksanaan, dan hasil pembelajaran yang dikelolanya. Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran tersebut guru dapat memunculkan perubahan-perubahan, baik dalam tataran paradigma, konsep, strategi, dan pendekatan yang lebih edukatif, perubahan kurikulum, maupun perubahan kebijakan. Jadi, tindakan reflektif merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap usaha meningkatkan kualitas pendidikan.

2.    Prinsip Refleksi Pembelajaran
a.    Berkelanjutan
Refleksi pembelajaran dilakukan secara berkelanjutan, yaitu refleksi pembelajaran dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Temuan pada suatu refleksi perlu ditindaklanjuti untuk melakukan perbaikan pembelajaran selanjutnya.

b.   Komprehensif
Refleksi pembelajaran dilaksanakan untuk seluruh dimensi pembelajaran (perencanaan, pelaksanaan, dan hasil pembelajaran). Refleksi terhadap praktik pembelajaran mendapatkan potret keterlaksanaan pembelajaran, baik kinerja guru maupun siswa, situasi pembelajaran, maupun dimensi lain pelaksanan pembelajaran. Namun tentu aspek perencanaan dan hasil pembelajaran yang dicapai tidak boleh luput direfleksikan, karena keberhasilan praktik tidak lepas dari perencanaan serta keberhasilan pembelajaran di lihat dari hasil yang diperoleh.

c.    Terintegrasi
Refleksi pembelajaran dilakukan secara terintegrasi antara aspek pembelajaran. Refleksi terhadap praktik pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari pencermatan kembali ketepatan perencanaan pembelajaran. Demikian pula, praktik dan perencanaan pembelajaran juga harus dikaitkan dengan hasil pembelajaran yang dicapai siswa. Dengan refleksi yang terintergasi demikian memungkinkan guru mendapatkan gambaran utuh tentang pelaksanaan tugas profesinya.

d.   Jujur
Refleksi pembelajaran dilakukan secara jujur dan profesional untuk mendapatkan hasil yang sesungguhnya. Guru yang melakukan refleksi tidak perlu menutup-nutupi fakta yang ditemukan hanya karena takut akan menyebabkan jatuh harga dirinya.

e.    Sistematis
Refleksi pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah yang jelas dan terencana. Refleksi pembelajaran yang dilakukan hanya spontanitas, tanpa rencana dan langkah yang jelas, kurang memberikan hasil refleksi yang memadai bagi peningkatan kualitas pembelajaran yang diharapkan.

f.     Kontekstual
Refleksi pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan situasi atau konteks bagaimana pembelajaran yang direfleksikan berlangsung.

3.    Tujuan dan Manfaat Refleksi Pembelajaran
Tujuan kegiatan Refleksi dalam pembelajaran dilakukan untuk melihat keterlaksanaan pembelajaran yang dikelolanya, kesesuaian rencana yang telah dibuat dan pelaksanaannya, keberhasilan pembelajaran, mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas.
Manfaat yang dirasakan guru setelah melakukan refleksi terhadap praktik mengajar yang telah dilakukan berpotensi dapat memberikan perubahan mendasar terhadap kinerjanya.

4.    Sasaran Refleksi Pembelajaran
a.        Perencanaan
1)   Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): meninjau kembali berbagai komponen dalam RPP.
2)      Rancangan penilaian
Penilaian dapat memberikan umpan balik yang konstruktif, baik bagi siswa maupun guru. Berdasarkan hasil penilaian, guru dapat mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah yang harus dilakukan selanjutnya.
b.    Pelaksanaan pembelajaran: memikirkan kembali keterlaksanaan metode mengajar yang telah direncanakan, keikutsertaan siswa dalam pembelajaran, suasana pembelajaran, maupun kendala dalam pembelajaran.
c.      Hasil belajar siswa: capaian belajar siswa dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam hal ini guru perlu memperhatikan dokumen-dokumen penilaian yang
telah dilakukan atau dimiliki guru dalam ketiga aspek tersebut.


..............................................................................................................................................................


Kamis, 28 September 2017

Perkembangan Kemampuan Intelektual

Perkembangan Kemampuan Intelektual
(Ringkasan Materi KP 4 Modul A Pedagogik Program PKB 2017)



1.    Perkembangan Kemampuan Intelektual
Intelligensi atau kemampuan intelektual merupakan kecakapan yang masih terkandung dalam diri seseorang yang diperoleh melalui faktor keturunan, namun beberapa penelitian menunjukkan dalam perkembangannya dipengaruhi oleh lingkungan. Kualitas lingkungan sangat mempengaruhi kualitas perkembangan kemampuan intelektual anak. Semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi pula IQ anak. Tiga unsur penting dalam keluarga yang berpengaruh terhadap perkembangan inteligensi anak berdasarkan hasil penelitian ini adalah,
a.         Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat di lingkungan keluarga
b.        Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orangtua atas prestasi akademik anak
c.         Harapan orangtua akan prestasi akademik anak.
Selain itu, variasi dalam stimulus adalah bagian terpenting dari lingkungan dan belajar untuk perkembangan inteligensi anak. Menurut Kolesnik (Djamarah, 2002:101) inteligensi dikaitkan dengan keberhasilan peserta didik dalam bidang akademik di sekolah. Peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual tinggi atau IQ tinggi diprediksi akan memiliki prestasi belajar yang tinggi pula, dan sebaliknya.

2.    Keragaman Peserta Didik dalam Kemampuan Intelektual
Peserta didik memiliki keragaman individual dalam kemampuan intelektual atau intelgensi. Tingkat intelegensi (Intelelligence Quotient atau IQ) merupakan satuan untuk menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang, yang diperoleh melalui tes inteligensi yang dilakukan oleh psokolog.
Tabel 1. Pengelompokan Anak berdasarkan Penyebaran IQ
IQ
Klasifikasi
%
Keterangan
140-…
Genius
0,25
Berkemampuan yang sangat luar biasa. Umumnya mampu memecahkan masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun mereka tidak bersekolah.
130-139
Sangat cerdas
0,75
Anak-anak yang sangat cerdas lebih cakap dalam membaca, memiliki pengetahuan bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang luas dan cepat memahami pengertian yang abstrak. Umumnya, faktor kesehatan, kekuatan, dan ketangkasan lebih menonjol daripada anak normal.
120-129
Cerdas
6,0
Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik, seringkali mereka berada di kelas biasa. Pimpinan kelas biasanya berasal dari kelompok ini.
110-119
Normal tinggi
13,0
Kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal, namun pada tingkat yang tinggi
90-109
Normal
60,0
Kelompok ini merupakan kelompok rata-rata atau normal (average), dan merupakan kelompok terbesar persentasenya dari populasi penduduk.
80-89
Normal rendah
13,0
Kelompok ini termasuk kelompok normal, rata-rata atau sedang namun pada tingkat terbawah, belajarnya agak lamban. Mereka dapat menyelesaikan sekolah tingkat SLP, akan tetapi menghadapi kesulitan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas di SLA.
70-79
Bodoh
6,0
Kelompok ini berada di perbatasan antara kelompok terbelakang dan kelompok normal. Anak kelompok ini dapat bersekolah di SLP, meskipun mengalami banyak kesulitan dan hambatan, akan tetapi sulit sekali menyelesaikan di kelas-kelas terakhir SLP.
50-69
Tunagrahita ringan
0,75
Anak debil sampai batas tertentu dapat belajar membaca, menulis, dan melakukan perhitungan-perhitungan yang sederhana dapat diberikan pekerjaan rutin yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan. Anak debil banyak bersekolah di SLB.
30-40
Tunagrahita sedang
0,20
Kecerdasannya sama dengan anak normal usia 7 tahun. Anak imbesil tidak bisa dididik di sekolah biasa.
0-29
Tunagrahita berat
0,05
Idiot merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah. Jarang ditemukan baik di sekolah umum maupun sekolah luar biasa

3.    Tahapan Perkembangan Berpikir
Kemampuan berpikir dikenal sebagai perkembangan kognitif. Kognitif berhubungan dengan kognisi, sedangkan kognisi merupakan kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Kemampuan kognitif yaitu penampilan yang dapat diamati dari aktivitas mental (otak) untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman sendiri.
Teori perkembangan kognitif dikemukakan oleh Piaget, seorang psikolog berkembangsaan Swiss. Menurut Piaget (Santrock, 2010:46) dalam memahami dunia mereka secara aktif, anak akan menggunakan skema (struktur kognitif). Skema adalah konsep atau kerangka yang ada dalam pikiran anak yang digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Dalam perkembangan fungsi-fungsi kognitif berlangsung mengikuti prinsip mencari keseimbangan (equilibrium) dengan menggunakan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
a.  Asimiliasi digunakan apabila individu memandang bahwa hal-hal yang baru dapat disesuaikan dengan kerangka berpikir yang dimilikinya (struktur kognitif), atau memasukan pengetahuan yang baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Contoh, seorang anak yang belum pernah mengoperasikan komputer, mengetahui cara menghidupkan komputer dengan menekan tombol berdasarkan hasil pengalaman dan pengamatannya. Perilaku ini sesuai dengan kerangka berpikirnya (asimilasi).
b.    Akomodasi digunakan apabila individu memandang bahwa objek-objek atau masalah yang baru tidak dapat diselesaikan dengan kerangka berpikir yang telah ada, maka ia akan mengubah kerangka berpikirnya. Akomodasi terjadi ketika anak harus menyesuaikan diri dengan informasi baru. Contoh, ketika lebih lanjut menekan tombol-tombol lainnya ia melakukan kesalahan, ia menyadari membutuhkan bantuan untuk mempelajari cara mengoperasikan komputer dari orang lain, mungkin dari teman atau guru. Penyesuaian yang dilakukan anak dalam pendekatan ini menunjukkan kesadaran akan perlunya mengubah kerangka berpikirnya (akomodasi).
Tabel 2. Tahapan Piaget mengenai Perkembangan Intelektual
Tahapan
Karakteristik
Sensorimotor (sejak kelahiran s.d usia 2 thn)
§  Membedakan diri sendiri dengan setiap objek .
§    Mengenal diri sebagai pelaku kegiatan dan mulai bertindak dengan tujuan tertentu, misalnya menarik seutas tali untuk menggerakkan sebuah mobil atau menggoncangkan mainan supaya bersuara.
§     Menguasai keadaan tetap dari objek (object permanence).
§     Menyadari bahwa benda tetap ada meskipun tidak lagi terjangkau oleh indra.
Preoperasional (2 – 7 tahun)
§    Terdiri atas sub tahap fungsi simbolis (2-4thn) dan sub tahap pemikiran intuitif (4-7 thn).
§     Belajar menggunakan bahasa dan menggambarkan objek dengan imajinasi dan kata-kata.
§     Berpikir masih bersifat egosentris mempunyai kesulitan menerima pandangan orang lain.
§     Mengklasifikasikan objek menurut tanda, misalnya: mengelompokkan semua balok merah tanpa memperhatikan bentuknya atau semua balok persegi tanpa memperhatikan warnanya.
Operasional konkret (7 – 11 atau12 tahun)
§     Mampu berpikir logis mengenai objek dan kejadian meskipun masih terikat objek-objek yang bersifat konkret.
§     Menguasai konservasi jumlah (usia 7 tahun), jumlah tak terbatas (usia 7 tahun), dan berat (usia 9 tahun).
§     Mengklasifikasikan objek menurut beberapa tanda dan menyusunnya dalam suatu seri berdasarkan satu dimensi, seperti ukuran.
Operasional formal 11,0 atau 12,0–14,0 atau 15,0 Tahun)
§     Mampu berpikir logis mengenai soal abstrak serta menguji hipotesis secara sistematis.
§     Menaruh perhatian terhadap masalah hipotesis, masa depan, dan masalah ideologis

4.    Karakteristik Perkembangan Kognitif Peserta Didik Usia Sekolah
Peserta didik sekolah dasar pada umumnya berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret (7 – 11 tahun). Pada tahap ini anak berpikir secara operasional dan penalaran logis menggantikan penalaran intuitif, meskipun masih bersifat konkret, artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa nyata. Pada masa ini juga anak sudah mampu menggolongkan (mengklasifikasi) dan mengkonservasi namun belum mampu memecahkan masalah yang bersifat abstrak.
§ Penalaran logis pada pemikir operasional konkret yaitu dapat menyimpulkan dari suatu kondisi/masalah yang disajikan. Misalnya, jika guru ingin mengajarkan kepada peserta didik untuk menyimpulkan jika benda A>B, dan B>C maka A>C, maka guru harus memberikan benda nyata berupa balok kayu dengan ukuran balok A paling besar, balok B besarnya menengah dan C paling kecil.
§   Klasifikasi yaitu kecakapan anak melihat secara logis persamaan–persamaan suatu kelompok objek dan memilihnya berdasarkan ciri-ciri yang sama. Contoh kemampuan dalam klasifikasi, peserta didik kelas awal dapat mengurutkan benda berdasarkan ukuran panjang dengan memberikan benda nyata berupa tongkat kayu.
§   Konservasi adalah istilah Piaget untuk kemampuan anak mengenali bahwa sifat benda tertentu (padat, isi, jumlah) tidak berubah walaupun terdapat perubahan rupa benda itu. Misalnya untuk menguji kemampuan konservasi, guru dapat memberikan tes volume. Sediakan dua gelas ukur yang sama (gelas A dan B) dan diisi dengan volume yang sama. Lalu salah satunya yaitu gelas B isinya dipindahkan ke gelas ukur C yang bentuknya berbeda (lebih tinggi dan kurus). Maka anak yang berada pada tahap preoperasional akan menjawab air yang ada di gelas ukur C lebih banyak. Sedangkan anak yang berada di operasional konkret memahami volume air pada kedua gelas ukur itu sama.

5.    Identifikasi Kemampuan Intelektual dan Kognitif Peserta Didik
Untuk mengetahui tahap perkembangan kognitif operasional konkret menurut teori Piaget, guru dapat melaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut ini.
a.    Tes untuk mengetahui kemampuan konservasi
Contoh tes untuk mengetahui kemampuan konservasi (untuk peserta didik kelas awal): berikan dua bola dari tanah liat atau lilin yang memiliki jumlah yang sama. Salah satu bola itu dipipihkan menjadi bentuk yang panjang, lalu berikan pertanyaan mana yang paling banyak tanah liatnya atau lilinnya. Anak yang berusia 7 atau 8 delapan tahun, kemungkinan besar akan menjawab bahwa jumlah lempung dalam kedua bentuk itu sama.
b.   Tes untuk mengetahui kemampuan klasifikasi
Untuk mengetahui kemampuan klasifikasi, contohnya berikan tes pohon keluarga dari empat generasi, A mempunyai anak dua orang yaitu B dan C, B dan C mempunyai anak masing- masing dua orang (D-E, F-G, I-J), J mempunyai anak dua orang yaitu K-L. Untuk anak yang sudah berada pada tahap operasional konkret akan mampu menjawab bahwa J adalah cucu A dan sekaligus ayah dari K-L.
c.    Identifikasi kemampuan logis
Anak diberikan tiga batang lidi yang berbeda panjangnya (A, B, C). Lidi A paling panjang, lidi B panjangnya menengah, dan lidi C paling pendek. Peserta didik yang berada pada tahap perkembangan operasional konkret dapat memahami A>B, dan B>C, maka A>C (Santrock, 2010:54).
6.    Implikasi terhadap Pembelajaran
Upaya guru dalam memfasilitasi keragaman kemampuan berpikir siswa adalah sebagai berikut.
a.    Identifikasi kemampuan intelektual peserta didik.
b.    Pahami tingkat perkembangan kognitif peserta didik
c. Ciptakan iklim pembelajaran yang kondusif atau sesuai bagi perkembangan kemampuan intelektual dan kognitif peserta didik secara optimal, yaitu iklim yang demokratis, hangat, ada rasa aman dan bebas dari ketegangan, menyenangkan , serta yang mendorong untuk bersaing dengan dirinya sendiri.
d.  Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman kecerdasan dan tingkat perkembangan berpikir peserta didik. Menurut Santrock (2010:61) strategi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir (teori Piaget) antara lain:
1)     Gunakan pendekatan konstruktivisme, anak-anak akan belajar lebih baik, mereka aktif dan mencari solusi.
2)      Rancang situasi yang membuat anak belajar melalui tindakan/kegiatan.
3)  Jadikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi dan penemuan sehingga dapat membuat kesimpulan sendiri.
4) Libatkan anak dalam tugas operasional yang meliputi penjumlahan, pengurangan, pembagian, pengurutan, pembalikan dengan menggunakan benda-benda konkret dan disesuaikan dengan pengalaman kehidupannya.
5)    Buat aktivitas untuk berlatih konsep pengurutan hierarki, misal dengan mengurutkan dari yang terkecil ke yang terbesar dan kebalikannya.
6)      Ajak anak untuk kerja kelompok dan berdiskusi.
7)      Untuk pembelajaran materi yang agak kompleks gunakan alat bantu visual dan alat peraga.
8)     Terima peserta didik apa adanya (unconditional positive regard acceptance) dan berempati kepada peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual kurang memadai.
9)      Rancang pembelajaran yang dapat memancing rasa ingin tahu anak atau bertanya.
10)  Beri kesempatan kepada semua peserta didik untuk memperoleh pengalaman keberhasilan sebesar/setingkat apapun dalam pembelajaran untuk pembentukan konsep diri yang positif dan memiliki sikap positif terhadap pelajaran.
11)    Saat pembelajaran, berikan pertanyaan kepada peserta didik yang sesuai dengan
kemampuan intelektualnya.


 ..................................................................................................................................................................

Perkembangan Fisik dan Motorik

Perkembangan Fisik dan Motorik
(Ringkasan Materi KP 3 Modul A Pedagogik Program PKB 2017)


Pengaruh perkembangan fisik secara langsung menentukan keterampilan anak dalam bergerak, sedangkan secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fisik mempengaruhi anak dalam memandang dirinya sendiri dan orang lain.

1.    Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik pada akhir masa kanak-kanak atau usia sekolah dasar merupakan periode pertumbuhan yang lambat dan relatif seragam sampai terjadi perubahan-perubahan pubertas. Bentuk tubuh mempengaruhi tinggi dan berat badan pada akhir masa kanak-kanak. Anak yang memiliki bentuk tubuh eksomorfikik yang tubuhnya panjang dan langsing tidak seberat anak yang endommorfik yang memiliki tubuh berat. Sedangkan anak yang bertubuh mesomorfik tumbuh lebih cepat daripada anak yang eksomorfik atau endomorfik, dan lebih cepat mencapai pubertas

2.    Perkembangan Keterampilan Motorik
Keterampilan motorik terdiri dari dua, yaitu:
a.   Keterampilan motorik kasar (berjalan, berlari, melompat, naik turun tangga, dsb.).
b.  Keterampilan motorik halus atau keterampilan memanipulasi (menulis, menggambar, memotong, melempar, dan menangkap bola, serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan, dsb.).
Salah satu tugas perkembangan pada akhir masa kanak-kanak adalah mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan dan kegiatan fisik. Keterampilan bermain pada anak-anak laki-laki adalah yang melibatkan otot-otot yang lebih kasar, seperti melempar dan menendang bola, dan melakukan lompat jauh. Sedangkan anak-anak perempuan lebih banyak pada keterampilan yang melibatkan otot-otot yang lebih halus, seperti melukis, menjahit, dan menganyam.
Perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bergaul atau bermain dengan teman sebayanya. Anak yang tidak normal akan mendapatkan hambatan dalam bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, selain itu anak akan terkucilkan atau menjadi anak fringer (terpinggirkan)

3.    Karakteristik Perkembangan Fisik dan Motorik Usia SD
Pertumbuhan fisik pada usia sekolah dasar menunjukkan pertumbuhan berat badan lebih banyak daripada pertumbuhan tinggi badan. Terjadinya pertumbuhan berat badan anak pada masa usia sekolah dasar terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka dan otot, serta ukuran beberapa bagian tubuh. Menurut Santrock (Desmita, 2014:80) perkembangan motorik pada anak usia sekolah dasar adalah sebagai berikut:
a.  Mulai usia 6 tahun sudah berkembang koordinasi antara mata dan tangan (visio motoric) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar, dan menangkap.
b.  Usia 7 tahun, tangan anak semakin kuat dan anak lebih menyukai menggunakan
pensil daripada krayon untuk melukis.
c. Usia 8 sampai 10 tahun, anak dapat menggunakan tangan secara bebas, mudah, dan tepat. Koordinasi motorik halus berkembang, sehingga anak dapat menulis dengan baik, ukuran huruf menjadi lebih kecil dan rata.
d. Usia 10 sampai 12 tahun, anak-anak mulai memiliki keterampilan-keterampilan manipulatif menyerupai kemampuan orang dewasa. Mereka mulai menampilkan gerakan-gerakan kompleks, rumit, dan cepat yang diperlukan untuk menghasilkan karya kerajinan yang berkualitas atau memainkan alat musik tertentu.

4.    Pengaruh Perkembangan Fisik terhadap Perilaku Peserta Didik
Normalitas dan kondisi fisik seorang anak akan mempengaruhi kepribadiannya, terutama yang bekaitan dengan masalah citra tubuh (body –image), konsep diri, dan rasa harga dirinya. Selain itu terlalu cepat atau keterlambatan dalam mencapai kematangan pertumbuhan fisik dan kesehatan peserta didik juga akan menimbulkan permasalahan terhadap sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya, dan khususnya pada kegiatan belajar. Perubahan fisik akan berpengaruh terhadap konsep diri peserta didik. Oleh karena itu, guru seyogyanya membantu peserta didik agar memiliki konsep diri yang positif.

5.    Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Fisik
a. Kesehatan dan gizi
b. Ketegangan emosional
c. Kecerdasan
d. Bentuk tubuh
e. Jenis Kelamin

6.    Identifikasi Perkembangan Fisik Peserta Didik
Identifikasi kondisi dan kesehatan fisik peserta didik dalam pembelajaran yang bias dilakukan guru, antara lain melalui pengamatan, wawancara, angket, tes (lisan, tulis, dan tindakan), studi dokumentasi, angket atau inventori.

7.    Implementasi dalam Pembelajaran
Keadaan fisik memiliki arti penting untuk mendukung kegiatan belajar dan memperoleh keterampilan-keterampilan tertentu serta berpengaruh terhadap perkembangan aspek intelektual, emosional, sosial, moral dan kepribadian. Berikut adalah hal yang dapat dilakukan guru.
  • Identifikasi keadaan fisik dan kesehatan peserta didik, prioritaskan peserta didik yang diduga memiliki kondisi fisik dan kesehatan yang kurang baik.
  • Miliki data kondisi fisik dan kesehatan setiap peserta didik yang diasuh.
  • Setiap awal pembelajaran, perhatikan dan tanyakan kesehatan peserta didik.
  • Bimbinglah dan latihlah peserta didik kelas awal yang motorik halusnya belum baik, terutama keterampilan menulis. Sedangkan untuk peserta didik di kelas tinggi pada motorik kasar dan penguasaan keseimbangan tubuh.
  • Berikan perhatian khusus (bukan perlakukan istimewa) kepada peserta didik yang mengalami gangguan panca indera, seperti gangguan penglihatan agar ditempatkan di kursi paling depan.
  • Berempatilah dan berikan perhatian khsusus kepada peserta didik yang memiliki tubuh kurang normal, seperti cacat fisik, terlalu kecil, terlalu gemuk supaya tidak berpengaruh negatif kepada perkembangan keperibadiannya.
  • Lakukanlah pembelajaran yang memfasilitasi pembiasaan sikap hidup sehat dan pengembangan keterampilan psikomotorik.
  • Bekerja samalah dengan rekan sejawat dan orangtua peserta didik.
  • Bekerja samalah dengan tenaga ahli (dokter dan psikolog) bila ada peserta didik yang memerlukan penanganan khusus, misalnya penderita thalasemia, gangguan konsentrasi, atau hiperaktif.

...........................................................................................................................................................................................................................