(Ringkasan Materi KP 1 Modul J Pedagogik Program PKB 2017)
Indikator Pencapaian Kompetensi:
1.Menjelaskan konsep, prinsip, tujuan, dan sasaran refleksi
pembelajaran
2.Melaksanakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan
Uraian Materi
1.Konsep Refleksi Pembelajaran
Refleksi: memikirkan atau merenungkan kembali, menyelidiki
pengalaman untuk membantu pemahaman dan apresiasi baru terhadap sesuatu hal
tertentu. Pengalaman menjadi penting sebagai sumber melakukan perbaikan jika
seseorang mau memahami setiap kejadian dan melihat dari sudut pandang berbeda.
Refleksi pembelajaran merupakan tindakan guru untuk me-review dan introspeksi
terhadap proses belajar mengajar yang telah dilakukan, meliputi perencanaan, keterlaksanaan, dan hasil
pembelajaranyang dikelolanya.
Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran tersebut guru dapat memunculkan
perubahan-perubahan, baik dalam tataran paradigma, konsep, strategi, dan
pendekatan yang lebih edukatif, perubahan kurikulum, maupun perubahan
kebijakan. Jadi, tindakan reflektif merupakan bagian tak terpisahkan dari
setiap usaha meningkatkan kualitas pendidikan.
2.Prinsip Refleksi Pembelajaran
a.Berkelanjutan
Refleksi pembelajaran dilakukan secara berkelanjutan, yaitu
refleksi pembelajaran dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Temuan
pada suatu refleksi perlu ditindaklanjuti untuk melakukan perbaikan
pembelajaran selanjutnya.
b.Komprehensif
Refleksi pembelajaran dilaksanakan untuk seluruh dimensi
pembelajaran (perencanaan, pelaksanaan, dan hasil pembelajaran). Refleksi terhadap
praktik pembelajaran mendapatkan potret keterlaksanaan pembelajaran, baik
kinerja guru maupun siswa, situasi pembelajaran, maupun dimensi lain pelaksanan
pembelajaran. Namun tentu aspek perencanaan dan hasil pembelajaran yang dicapai
tidak boleh luput direfleksikan, karena keberhasilan praktik tidak lepas dari
perencanaan serta keberhasilan pembelajaran di lihat dari hasil yang diperoleh.
c.Terintegrasi
Refleksi pembelajaran dilakukan secara terintegrasi antara aspek pembelajaran.
Refleksi terhadap praktik pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari pencermatan
kembali ketepatan perencanaan pembelajaran. Demikian pula, praktik dan
perencanaan pembelajaran juga harus dikaitkan dengan hasil pembelajaran yang
dicapai siswa. Dengan refleksi yang terintergasi demikian memungkinkan guru mendapatkan
gambaran utuh tentang pelaksanaan tugas profesinya.
d.Jujur
Refleksi pembelajaran dilakukan secara jujur dan profesional untuk
mendapatkan hasil yang sesungguhnya. Guru yang melakukan refleksi tidak perlu
menutup-nutupi fakta yang ditemukan hanya karena takut akan menyebabkan jatuh
harga dirinya.
e.Sistematis
Refleksi pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah yang jelas
dan terencana. Refleksi pembelajaran yang dilakukan hanya spontanitas, tanpa
rencana dan langkah yang jelas, kurang memberikan hasil refleksi yang memadai
bagi peningkatan kualitas pembelajaran yang diharapkan.
f.Kontekstual
Refleksi
pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan situasi atau konteks bagaimana
pembelajaran yang direfleksikan berlangsung.
3.Tujuan dan Manfaat Refleksi Pembelajaran
Tujuan kegiatan Refleksi dalam pembelajaran dilakukan untuk
melihat keterlaksanaan pembelajaran yang dikelolanya, kesesuaian rencana yang telah
dibuat dan pelaksanaannya, keberhasilan pembelajaran, mengidentifikasi
permasalahan yang dihadapi, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran
di kelas.
Manfaat yang dirasakan guru setelah melakukan refleksi terhadap
praktik mengajar yang telah dilakukan berpotensi dapat memberikan perubahan mendasar
terhadap kinerjanya.
4.Sasaran Refleksi Pembelajaran
a.Perencanaan
1)Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP): meninjau kembali berbagai komponen dalam RPP.
2)Rancangan penilaian
Penilaian dapat memberikan umpan balik yang konstruktif, baik bagi
siswa maupun guru. Berdasarkan hasil penilaian, guru dapat mengambil keputusan
secara tepat untuk menentukan langkah yang harus dilakukan selanjutnya.
b.Pelaksanaan pembelajaran: memikirkan kembali
keterlaksanaan metode mengajar yang telah direncanakan, keikutsertaan siswa
dalam pembelajaran, suasana pembelajaran, maupun kendala dalam pembelajaran.
c.Hasil belajar siswa: capaian
belajar siswa dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam hal ini
guru perlu memperhatikan dokumen-dokumen penilaian yang
telah dilakukan atau dimiliki guru dalam ketiga aspek tersebut.
(Ringkasan Materi KP 4 Modul A Pedagogik Program PKB 2017)
1.Perkembangan Kemampuan Intelektual
Intelligensi atau kemampuan intelektual merupakan kecakapan yang
masih terkandung dalam diri seseorang yang diperoleh melalui faktor keturunan,
namun beberapa penelitian menunjukkan dalam perkembangannya dipengaruhi oleh lingkungan.
Kualitas lingkungan sangat mempengaruhi kualitas perkembangan kemampuan
intelektual anak. Semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi
pula IQ anak. Tiga unsur penting dalam keluarga yang berpengaruh terhadap perkembangan
inteligensi anak berdasarkan hasil penelitian ini adalah,
a.Jumlah buku, majalah, dan
materi belajar lainnya yang terdapat di lingkungan keluarga
b.Jumlah ganjaran dan pengakuan
yang diterima anak dari orangtua atas prestasi akademik anak
c.Harapan orangtua akan prestasi
akademik anak.
Selain itu, variasi dalam stimulus adalah bagian terpenting dari
lingkungan dan belajar untuk perkembangan inteligensi anak. Menurut Kolesnik
(Djamarah, 2002:101) inteligensi dikaitkan dengan keberhasilan peserta didik
dalam bidang akademik di sekolah. Peserta didik yang memiliki kemampuan
intelektual tinggi atau IQ tinggi
diprediksi akan memiliki prestasi belajar yang tinggi pula, dan sebaliknya.
2.Keragaman Peserta Didik dalam Kemampuan Intelektual
Peserta didik memiliki keragaman individual dalam kemampuan
intelektual atau intelgensi. Tingkat intelegensi (Intelelligence Quotient atau IQ) merupakan satuan untuk menunjukkan tingkat kecerdasan
seseorang, yang diperoleh melalui tes inteligensi yang dilakukan oleh psokolog.
Tabel 1. Pengelompokan Anak berdasarkan
Penyebaran IQ
IQ
Klasifikasi
%
Keterangan
140-…
Genius
0,25
Berkemampuan yang sangat luar biasa. Umumnya mampu memecahkan
masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun mereka tidak bersekolah.
130-139
Sangat cerdas
0,75
Anak-anak yang sangat cerdas lebih cakap dalam membaca, memiliki
pengetahuan bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang luas dan
cepat memahami pengertian yang abstrak. Umumnya, faktor kesehatan, kekuatan,
dan ketangkasan lebih menonjol daripada anak normal.
120-129
Cerdas
6,0
Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik,
seringkali mereka berada di kelas biasa. Pimpinan kelas biasanya berasal dari
kelompok ini.
110-119
Normal tinggi
13,0
Kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal, namun pada
tingkat yang tinggi
90-109
Normal
60,0
Kelompok ini merupakan kelompok rata-rata atau normal (average),
dan merupakan kelompok terbesar persentasenya dari populasi penduduk.
80-89
Normal rendah
13,0
Kelompok ini termasuk kelompok normal, rata-rata atau sedang namun
pada tingkat terbawah, belajarnya agak lamban. Mereka dapat menyelesaikan
sekolah tingkat SLP, akan tetapi menghadapi kesulitan untuk dapat
menyelesaikan tugas-tugas di SLA.
70-79
Bodoh
6,0
Kelompok ini berada di perbatasan antara kelompok terbelakang dan
kelompok normal. Anak kelompok ini dapat bersekolah di SLP, meskipun
mengalami banyak kesulitan dan hambatan, akan tetapi sulit sekali menyelesaikan
di kelas-kelas terakhir SLP.
50-69
Tunagrahita ringan
0,75
Anak debil sampai batas tertentu dapat belajar membaca, menulis,
dan melakukan perhitungan-perhitungan yang sederhana dapat diberikan
pekerjaan rutin yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan. Anak debil
banyak bersekolah di SLB.
30-40
Tunagrahita sedang
0,20
Kecerdasannya sama dengan anak normal usia 7 tahun. Anak imbesil
tidak bisa dididik di sekolah biasa.
0-29
Tunagrahita berat
0,05
Idiot merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah.
Jarang ditemukan baik di sekolah umum maupun sekolah luar biasa
3.Tahapan Perkembangan Berpikir
Kemampuan berpikir dikenal sebagai perkembangan kognitif. Kognitif
berhubungan dengan kognisi, sedangkan kognisi merupakan kegiatan atau proses memperoleh
pengetahuan atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Kemampuan
kognitif yaitu penampilan yang dapat diamati dari aktivitas mental (otak) untuk
memperoleh pengetahuan melalui pengalaman sendiri.
Teori perkembangan kognitif dikemukakan oleh Piaget, seorang
psikolog berkembangsaan Swiss. Menurut Piaget (Santrock, 2010:46) dalam
memahami dunia mereka secara aktif, anak akan menggunakan skema (struktur
kognitif). Skema adalah konsep atau kerangka yang ada dalam pikiran anak yang
digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Dalam perkembangan
fungsi-fungsi kognitif berlangsung mengikuti prinsip mencari keseimbangan (equilibrium)
dengan menggunakan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
a.Asimiliasi digunakan apabila individu memandang bahwa hal-hal yang
baru dapat disesuaikan dengan kerangka berpikir yang dimilikinya (struktur kognitif),
atau memasukan pengetahuan yang baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada.
Contoh, seorang anak yang belum pernah mengoperasikan komputer, mengetahui cara
menghidupkan komputer dengan menekan tombol berdasarkan hasil pengalaman dan
pengamatannya. Perilaku ini sesuai dengan kerangka berpikirnya (asimilasi).
b.Akomodasi digunakan apabila individu memandang bahwa objek-objek
atau masalah yang baru tidak dapat diselesaikan dengan kerangka berpikir yang telah
ada, maka ia akan mengubah kerangka berpikirnya. Akomodasi terjadi ketika anak
harus menyesuaikan diri dengan informasi baru. Contoh, ketika lebih lanjut
menekan tombol-tombol lainnya ia melakukan kesalahan, ia menyadari membutuhkan
bantuan untuk mempelajari cara mengoperasikan komputer dari orang lain, mungkin
dari teman atau guru. Penyesuaian yang dilakukan anak dalam pendekatan ini
menunjukkan kesadaran akan perlunya mengubah kerangka berpikirnya (akomodasi).
Tabel
2. Tahapan Piaget mengenai Perkembangan Intelektual
Tahapan
Karakteristik
Sensorimotor (sejak kelahiran s.d usia 2 thn)
§ Membedakan diri sendiri dengan setiap objek .
§Mengenal diri sebagai pelaku kegiatan dan mulai bertindak dengan
tujuan tertentu, misalnya menarik seutas tali untuk menggerakkan sebuah mobil
atau menggoncangkan mainan supaya bersuara.
§Menguasai keadaan tetap dari objek (object permanence).
§Menyadari bahwa benda tetap ada meskipun tidak lagi terjangkau
oleh indra.
Preoperasional (2 – 7 tahun)
§Terdiri atas sub tahap fungsi simbolis (2-4thn) dan sub tahap pemikiran
intuitif (4-7 thn).
§Belajar menggunakan bahasa dan menggambarkan objek dengan
imajinasi dan kata-kata.
§Berpikir masih bersifat egosentris mempunyai kesulitan menerima
pandangan orang lain.
§Mengklasifikasikan objek menurut tanda, misalnya: mengelompokkan
semua balok merah tanpa memperhatikan bentuknya atau semua balok persegi
tanpa memperhatikan warnanya.
Operasional konkret (7 – 11 atau12 tahun)
§Mampu berpikir logis mengenai objek dan kejadian meskipun masih
terikat objek-objek yang bersifat konkret.
§Menguasai konservasi jumlah (usia 7 tahun), jumlah tak terbatas
(usia 7 tahun), dan berat (usia 9 tahun).
§Mengklasifikasikan objek menurut beberapa tanda dan menyusunnya
dalam suatu seri berdasarkan satu dimensi, seperti ukuran.
Operasional formal 11,0 atau 12,0–14,0 atau 15,0 Tahun)
§Mampu berpikir logis mengenai soal abstrak serta menguji hipotesis
secara sistematis.
§Menaruh perhatian terhadap masalah hipotesis, masa depan, dan
masalah ideologis
4.Karakteristik Perkembangan Kognitif Peserta Didik Usia Sekolah
Peserta didik sekolah dasar pada umumnya berada pada tahap
perkembangan kognitif operasional konkret (7 – 11 tahun). Pada tahap ini anak
berpikir secara operasional dan penalaran logis menggantikan penalaran
intuitif, meskipun masih bersifat konkret, artinya aktivitas mental yang
difokuskan pada objek-objek dan peristiwa nyata. Pada masa ini juga anak sudah
mampu menggolongkan (mengklasifikasi) dan mengkonservasi namun belum mampu
memecahkan masalah yang bersifat abstrak.
§Penalaran logis pada pemikir operasional konkret yaitu dapat
menyimpulkan dari suatu kondisi/masalah yang disajikan. Misalnya, jika guru
ingin mengajarkan kepada peserta didik untuk menyimpulkan jika benda A>B,
dan B>C maka A>C, maka guru harus memberikan benda nyata berupa balok
kayu dengan ukuran balok A paling besar, balok B besarnya menengah dan C paling
kecil.
§Klasifikasi yaitu kecakapan anak melihat secara logis persamaan–persamaan
suatu kelompok objek dan memilihnya berdasarkan ciri-ciri yang sama. Contoh kemampuan
dalam klasifikasi, peserta didik kelas awal dapat mengurutkan benda berdasarkan
ukuran panjang dengan memberikan benda nyata berupa tongkat kayu.
§Konservasi adalah istilah Piaget untuk kemampuan anak mengenali
bahwa sifat benda tertentu (padat, isi, jumlah) tidak berubah walaupun terdapat
perubahan rupa benda itu. Misalnya untuk menguji kemampuan konservasi, guru
dapat memberikan tes volume. Sediakan dua gelas ukur yang sama (gelas A dan B)
dan diisi dengan volume yang sama. Lalu salah satunya yaitu gelas B isinya
dipindahkan ke gelas ukur C yang bentuknya berbeda (lebih tinggi dan kurus).
Maka anak yang berada pada tahap preoperasional akan menjawab air yang ada di
gelas ukur C lebih banyak. Sedangkan anak yang berada di operasional konkret
memahami volume air pada kedua gelas ukur itu sama.
5.Identifikasi Kemampuan Intelektual dan Kognitif Peserta Didik
Untuk mengetahui tahap perkembangan kognitif operasional konkret
menurut teori Piaget, guru dapat melaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut
ini.
a.Tes untuk mengetahui kemampuan konservasi
Contoh tes untuk
mengetahui kemampuan konservasi (untuk peserta didik kelas awal): berikan dua
bola dari tanah liat atau lilin yang memiliki jumlah yang sama. Salah satu bola
itu dipipihkan menjadi bentuk yang panjang, lalu berikan pertanyaan mana yang
paling banyak tanah liatnya atau lilinnya. Anak yang berusia 7 atau 8 delapan
tahun, kemungkinan besar akan menjawab bahwa jumlah lempung dalam kedua bentuk
itu sama.
b.Tes untuk mengetahui kemampuan klasifikasi
Untuk
mengetahui kemampuan klasifikasi, contohnya berikan tes pohon keluarga dari
empat generasi, A mempunyai anak dua orang yaitu B dan C, B dan C mempunyai
anak masing- masing dua orang (D-E, F-G, I-J), J mempunyai anak dua orang yaitu
K-L. Untuk anak yang sudah berada pada tahap operasional konkret akan mampu
menjawab bahwa J adalah cucu A dan sekaligus ayah dari K-L.
c.Identifikasi kemampuan logis
Anak
diberikan tiga batang lidi yang berbeda panjangnya (A, B, C). Lidi A paling panjang,
lidi B panjangnya menengah, dan lidi C paling pendek. Peserta didik yang berada
pada tahap perkembangan operasional konkret dapat memahami A>B, dan B>C,
maka A>C (Santrock, 2010:54).
6.Implikasi terhadap Pembelajaran
Upaya guru dalam memfasilitasi keragaman kemampuan berpikir siswa adalah
sebagai berikut.
a.Identifikasi kemampuan intelektual peserta didik.
b.Pahami tingkat perkembangan kognitif peserta didik
c.Ciptakan iklim pembelajaran yang kondusif atau sesuai bagi
perkembangan kemampuan intelektual dan kognitif peserta didik secara optimal,
yaitu iklim yang demokratis, hangat, ada rasa aman dan bebas dari ketegangan, menyenangkan
, serta yang mendorong untuk bersaing dengan dirinya sendiri.
d.Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman kecerdasan dan
tingkat perkembangan berpikir peserta didik. Menurut Santrock (2010:61)
strategi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir (teori Piaget)
antara lain:
1)Gunakan pendekatan
konstruktivisme, anak-anak akan belajar lebih baik, mereka aktif dan mencari
solusi.
2)Rancang situasi yang membuat
anak belajar melalui tindakan/kegiatan.
3)Jadikan ruang kelas menjadi
ruang eksplorasi dan penemuan sehingga dapat membuat kesimpulan sendiri.
4)Libatkan anak dalam tugas
operasional yang meliputi penjumlahan, pengurangan, pembagian, pengurutan,
pembalikan dengan menggunakan benda-benda konkret dan disesuaikan dengan
pengalaman kehidupannya.
5)Buat aktivitas untuk berlatih
konsep pengurutan hierarki, misal dengan mengurutkan dari yang terkecil ke yang
terbesar dan kebalikannya.
6)Ajak anak untuk kerja kelompok
dan berdiskusi.
7)Untuk pembelajaran materi yang
agak kompleks gunakan alat bantu visual dan alat peraga.
8)Terima peserta didik apa
adanya (unconditional positive regard acceptance) dan berempati kepada
peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual kurang memadai.
9)Rancang pembelajaran yang
dapat memancing rasa ingin tahu anak atau bertanya.
10)Beri kesempatan kepada semua peserta didik untuk memperoleh
pengalaman keberhasilan sebesar/setingkat apapun dalam pembelajaran untuk pembentukan
konsep diri yang positif dan memiliki sikap positif terhadap pelajaran.
11)Saat pembelajaran, berikan pertanyaan kepada peserta didik yang
sesuai dengan
kemampuan intelektualnya.
(Ringkasan Materi KP 3 Modul A Pedagogik Program PKB 2017)
Pengaruh perkembangan fisik secara langsung menentukan
keterampilan anak dalam bergerak, sedangkan secara tidak langsung, pertumbuhan
dan perkembangan fisik mempengaruhi anak dalam memandang dirinya sendiri dan
orang lain.
1.Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik pada akhir masa kanak-kanak atau usia sekolah
dasar merupakan periode pertumbuhan yang lambat dan relatif seragam sampai
terjadi perubahan-perubahan pubertas. Bentuk tubuh mempengaruhi tinggi dan
berat badan pada akhir masa kanak-kanak. Anak yang memiliki bentuk tubuh eksomorfikik
yang tubuhnya panjang dan langsing tidak seberat anak yang endommorfik yang
memiliki tubuh berat. Sedangkan anak yang bertubuh mesomorfik tumbuh lebih
cepat daripada anak yang eksomorfik atau endomorfik, dan lebih cepat mencapai
pubertas
2.Perkembangan Keterampilan Motorik
Keterampilan motorik terdiri dari dua, yaitu:
a.Keterampilan motorik kasar (berjalan, berlari, melompat, naik
turun tangga, dsb.).
b.Keterampilan motorik halus atau keterampilan memanipulasi (menulis,
menggambar, memotong, melempar, dan menangkap bola, serta memainkan benda-benda
atau alat-alat mainan, dsb.).
Salah satu tugas perkembangan pada akhir masa kanak-kanak adalah
mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan dan kegiatan
fisik. Keterampilan bermain pada anak-anak laki-laki adalah yang melibatkan
otot-otot yang lebih kasar, seperti melempar dan menendang bola, dan melakukan
lompat jauh. Sedangkan anak-anak perempuan lebih banyak pada keterampilan yang melibatkan
otot-otot yang lebih halus, seperti melukis, menjahit, dan menganyam.
Perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bergaul atau
bermain dengan teman sebayanya. Anak yang tidak normal akan mendapatkan hambatan
dalam bermain atau bergaul dengan teman sebayanya, selain itu anak akan
terkucilkan atau menjadi anak fringer (terpinggirkan)
3.Karakteristik Perkembangan Fisik dan Motorik Usia SD
Pertumbuhan fisik pada usia sekolah dasar menunjukkan pertumbuhan
berat badan lebih banyak daripada pertumbuhan tinggi badan. Terjadinya
pertumbuhan berat badan anak pada masa usia sekolah dasar terutama karena
bertambahnya ukuran sistem rangka dan otot, serta ukuran beberapa bagian tubuh.
Menurut Santrock (Desmita, 2014:80) perkembangan motorik pada anak usia sekolah
dasar adalah sebagai berikut:
a.Mulai usia 6 tahun sudah berkembang koordinasi antara mata dan
tangan (visio motoric) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak,
melempar, dan menangkap.
b.Usia 7 tahun, tangan anak semakin kuat dan anak lebih menyukai
menggunakan
pensil daripada krayon untuk melukis.
c.Usia 8 sampai 10 tahun, anak dapat menggunakan tangan secara
bebas, mudah, dan tepat. Koordinasi motorik halus berkembang, sehingga anak
dapat menulis dengan baik, ukuran huruf menjadi lebih kecil dan rata.
d.Usia 10 sampai 12 tahun, anak-anak mulai memiliki
keterampilan-keterampilan manipulatif menyerupai kemampuan orang dewasa. Mereka
mulai menampilkan gerakan-gerakan kompleks, rumit, dan cepat yang diperlukan
untuk menghasilkan karya kerajinan yang berkualitas atau memainkan alat musik tertentu.
4.Pengaruh Perkembangan
Fisik terhadap Perilaku Peserta Didik
Normalitas dan kondisi fisik seorang anak akan mempengaruhi
kepribadiannya, terutama yang bekaitan dengan masalah citra tubuh (body
–image), konsep diri, dan rasa harga dirinya. Selain itu terlalu
cepat atau keterlambatan dalam mencapai kematangan pertumbuhan fisik dan
kesehatan peserta didik juga akan menimbulkan permasalahan terhadap sikap dan
perilaku peserta didik pada umumnya, dan khususnya pada kegiatan belajar. Perubahan
fisik akan berpengaruh terhadap konsep diri peserta didik. Oleh karena itu,
guru seyogyanya membantu peserta didik agar memiliki konsep diri yang positif.
5.Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Fisik
a. Kesehatan dan gizi
b. Ketegangan emosional
c. Kecerdasan
d. Bentuk tubuh
e. Jenis Kelamin
6.Identifikasi Perkembangan Fisik Peserta Didik
Identifikasi kondisi dan kesehatan fisik peserta didik dalam
pembelajaran yang bias dilakukan guru, antara lain melalui pengamatan,
wawancara, angket, tes (lisan, tulis, dan tindakan), studi dokumentasi, angket
atau inventori.
7.Implementasi dalam Pembelajaran
Keadaan fisik memiliki arti penting
untuk mendukung kegiatan belajar dan memperoleh keterampilan-keterampilan
tertentu serta berpengaruh terhadap perkembangan
aspek intelektual, emosional, sosial, moral dan kepribadian. Berikut adalah hal
yang dapat dilakukan guru.
Identifikasi keadaan fisik dan
kesehatan peserta didik, prioritaskan peserta didik yang diduga memiliki
kondisi fisik dan kesehatan yang kurang baik.
Miliki data kondisi fisik dan kesehatan setiap peserta didik yang
diasuh.
Setiap awal pembelajaran, perhatikan dan tanyakan kesehatan
peserta didik.
Bimbinglah dan latihlah peserta didik kelas awal yang motorik
halusnya belum baik, terutama keterampilan menulis. Sedangkan untuk peserta
didik di kelas tinggi pada motorik kasar dan penguasaan keseimbangan tubuh.
Berikan perhatian khusus (bukan perlakukan istimewa) kepada
peserta didik yang mengalami gangguan panca indera, seperti gangguan
penglihatan agar ditempatkan di kursi paling depan.
Berempatilah dan berikan
perhatian khsusus kepada peserta didik yang memiliki tubuh kurang normal,
seperti cacat fisik, terlalu kecil, terlalu gemuk supaya tidak berpengaruh
negatif kepada perkembangan keperibadiannya.
Lakukanlah pembelajaran yang memfasilitasi pembiasaan sikap hidup
sehat dan pengembangan keterampilan psikomotorik.
Bekerja samalah dengan rekan sejawat dan orangtua peserta didik.
Bekerja samalah dengan tenaga
ahli (dokter dan psikolog) bila ada peserta didik yang memerlukan penanganan
khusus, misalnya penderita thalasemia, gangguan konsentrasi, atau hiperaktif.