Perkembangan Kemampuan Intelektual
(Ringkasan Materi KP 4 Modul A Pedagogik Program PKB 2017)
1. Perkembangan Kemampuan Intelektual
Intelligensi atau kemampuan intelektual merupakan kecakapan yang
masih terkandung dalam diri seseorang yang diperoleh melalui faktor keturunan,
namun beberapa penelitian menunjukkan dalam perkembangannya dipengaruhi oleh lingkungan.
Kualitas lingkungan sangat mempengaruhi kualitas perkembangan kemampuan
intelektual anak. Semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi
pula IQ anak. Tiga unsur penting dalam keluarga yang berpengaruh terhadap perkembangan
inteligensi anak berdasarkan hasil penelitian ini adalah,
a.
Jumlah buku, majalah, dan
materi belajar lainnya yang terdapat di lingkungan keluarga
b.
Jumlah ganjaran dan pengakuan
yang diterima anak dari orangtua atas prestasi akademik anak
c.
Harapan orangtua akan prestasi
akademik anak.
Selain itu, variasi dalam stimulus adalah bagian terpenting dari
lingkungan dan belajar untuk perkembangan inteligensi anak. Menurut Kolesnik
(Djamarah, 2002:101) inteligensi dikaitkan dengan keberhasilan peserta didik
dalam bidang akademik di sekolah. Peserta didik yang memiliki kemampuan
intelektual tinggi atau IQ tinggi
diprediksi akan memiliki prestasi belajar yang tinggi pula, dan sebaliknya.
2. Keragaman Peserta Didik dalam Kemampuan Intelektual
Peserta didik memiliki keragaman individual dalam kemampuan
intelektual atau intelgensi. Tingkat intelegensi (Intelelligence Quotient atau IQ) merupakan satuan untuk menunjukkan tingkat kecerdasan
seseorang, yang diperoleh melalui tes inteligensi yang dilakukan oleh psokolog.
Tabel 1. Pengelompokan Anak berdasarkan
Penyebaran IQ
IQ
|
Klasifikasi
|
%
|
Keterangan
|
140-…
|
Genius
|
0,25
|
Berkemampuan yang sangat luar biasa. Umumnya mampu memecahkan
masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun mereka tidak bersekolah.
|
130-139
|
Sangat cerdas
|
0,75
|
Anak-anak yang sangat cerdas lebih cakap dalam membaca, memiliki
pengetahuan bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang luas dan
cepat memahami pengertian yang abstrak. Umumnya, faktor kesehatan, kekuatan,
dan ketangkasan lebih menonjol daripada anak normal.
|
120-129
|
Cerdas
|
6,0
|
Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik,
seringkali mereka berada di kelas biasa. Pimpinan kelas biasanya berasal dari
kelompok ini.
|
110-119
|
Normal tinggi
|
13,0
|
Kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal, namun pada
tingkat yang tinggi
|
90-109
|
Normal
|
60,0
|
Kelompok ini merupakan kelompok rata-rata atau normal (average),
dan merupakan kelompok terbesar persentasenya dari populasi penduduk.
|
80-89
|
Normal rendah
|
13,0
|
Kelompok ini termasuk kelompok normal, rata-rata atau sedang namun
pada tingkat terbawah, belajarnya agak lamban. Mereka dapat menyelesaikan
sekolah tingkat SLP, akan tetapi menghadapi kesulitan untuk dapat
menyelesaikan tugas-tugas di SLA.
|
70-79
|
Bodoh
|
6,0
|
Kelompok ini berada di perbatasan antara kelompok terbelakang dan
kelompok normal. Anak kelompok ini dapat bersekolah di SLP, meskipun
mengalami banyak kesulitan dan hambatan, akan tetapi sulit sekali menyelesaikan
di kelas-kelas terakhir SLP.
|
50-69
|
Tunagrahita ringan
|
0,75
|
Anak debil sampai batas tertentu dapat belajar membaca, menulis,
dan melakukan perhitungan-perhitungan yang sederhana dapat diberikan
pekerjaan rutin yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan. Anak debil
banyak bersekolah di SLB.
|
30-40
|
Tunagrahita sedang
|
0,20
|
Kecerdasannya sama dengan anak normal usia 7 tahun. Anak imbesil
tidak bisa dididik di sekolah biasa.
|
0-29
|
Tunagrahita berat
|
0,05
|
Idiot merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah.
Jarang ditemukan baik di sekolah umum maupun sekolah luar biasa
|
3. Tahapan Perkembangan Berpikir
Kemampuan berpikir dikenal sebagai perkembangan kognitif. Kognitif
berhubungan dengan kognisi, sedangkan kognisi merupakan kegiatan atau proses memperoleh
pengetahuan atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Kemampuan
kognitif yaitu penampilan yang dapat diamati dari aktivitas mental (otak) untuk
memperoleh pengetahuan melalui pengalaman sendiri.
Teori perkembangan kognitif dikemukakan oleh Piaget, seorang
psikolog berkembangsaan Swiss. Menurut Piaget (Santrock, 2010:46) dalam
memahami dunia mereka secara aktif, anak akan menggunakan skema (struktur
kognitif). Skema adalah konsep atau kerangka yang ada dalam pikiran anak yang
digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Dalam perkembangan
fungsi-fungsi kognitif berlangsung mengikuti prinsip mencari keseimbangan (equilibrium)
dengan menggunakan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
a. Asimiliasi digunakan apabila individu memandang bahwa hal-hal yang
baru dapat disesuaikan dengan kerangka berpikir yang dimilikinya (struktur kognitif),
atau memasukan pengetahuan yang baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada.
Contoh, seorang anak yang belum pernah mengoperasikan komputer, mengetahui cara
menghidupkan komputer dengan menekan tombol berdasarkan hasil pengalaman dan
pengamatannya. Perilaku ini sesuai dengan kerangka berpikirnya (asimilasi).
b. Akomodasi digunakan apabila individu memandang bahwa objek-objek
atau masalah yang baru tidak dapat diselesaikan dengan kerangka berpikir yang telah
ada, maka ia akan mengubah kerangka berpikirnya. Akomodasi terjadi ketika anak
harus menyesuaikan diri dengan informasi baru. Contoh, ketika lebih lanjut
menekan tombol-tombol lainnya ia melakukan kesalahan, ia menyadari membutuhkan
bantuan untuk mempelajari cara mengoperasikan komputer dari orang lain, mungkin
dari teman atau guru. Penyesuaian yang dilakukan anak dalam pendekatan ini
menunjukkan kesadaran akan perlunya mengubah kerangka berpikirnya (akomodasi).
Tabel
2. Tahapan Piaget mengenai Perkembangan Intelektual
Tahapan
|
Karakteristik
|
Sensorimotor (sejak kelahiran s.d usia 2 thn)
|
§ Membedakan diri sendiri dengan setiap objek .
§ Mengenal diri sebagai pelaku kegiatan dan mulai bertindak dengan
tujuan tertentu, misalnya menarik seutas tali untuk menggerakkan sebuah mobil
atau menggoncangkan mainan supaya bersuara.
§ Menguasai keadaan tetap dari objek (object permanence).
§ Menyadari bahwa benda tetap ada meskipun tidak lagi terjangkau
oleh indra.
|
Preoperasional (2 – 7 tahun)
|
§ Terdiri atas sub tahap fungsi simbolis (2-4thn) dan sub tahap pemikiran
intuitif (4-7 thn).
§ Belajar menggunakan bahasa dan menggambarkan objek dengan
imajinasi dan kata-kata.
§ Berpikir masih bersifat egosentris mempunyai kesulitan menerima
pandangan orang lain.
§ Mengklasifikasikan objek menurut tanda, misalnya: mengelompokkan
semua balok merah tanpa memperhatikan bentuknya atau semua balok persegi
tanpa memperhatikan warnanya.
|
Operasional konkret (7 – 11 atau12 tahun)
|
§ Mampu berpikir logis mengenai objek dan kejadian meskipun masih
terikat objek-objek yang bersifat konkret.
§ Menguasai konservasi jumlah (usia 7 tahun), jumlah tak terbatas
(usia 7 tahun), dan berat (usia 9 tahun).
§ Mengklasifikasikan objek menurut beberapa tanda dan menyusunnya
dalam suatu seri berdasarkan satu dimensi, seperti ukuran.
|
Operasional formal 11,0 atau 12,0–14,0 atau 15,0 Tahun)
|
§ Mampu berpikir logis mengenai soal abstrak serta menguji hipotesis
secara sistematis.
§ Menaruh perhatian terhadap masalah hipotesis, masa depan, dan
masalah ideologis
|
4. Karakteristik Perkembangan Kognitif Peserta Didik Usia Sekolah
Peserta didik sekolah dasar pada umumnya berada pada tahap
perkembangan kognitif operasional konkret (7 – 11 tahun). Pada tahap ini anak
berpikir secara operasional dan penalaran logis menggantikan penalaran
intuitif, meskipun masih bersifat konkret, artinya aktivitas mental yang
difokuskan pada objek-objek dan peristiwa nyata. Pada masa ini juga anak sudah
mampu menggolongkan (mengklasifikasi) dan mengkonservasi namun belum mampu
memecahkan masalah yang bersifat abstrak.
§ Penalaran logis pada pemikir operasional konkret yaitu dapat
menyimpulkan dari suatu kondisi/masalah yang disajikan. Misalnya, jika guru
ingin mengajarkan kepada peserta didik untuk menyimpulkan jika benda A>B,
dan B>C maka A>C, maka guru harus memberikan benda nyata berupa balok
kayu dengan ukuran balok A paling besar, balok B besarnya menengah dan C paling
kecil.
§ Klasifikasi yaitu kecakapan anak melihat secara logis persamaan–persamaan
suatu kelompok objek dan memilihnya berdasarkan ciri-ciri yang sama. Contoh kemampuan
dalam klasifikasi, peserta didik kelas awal dapat mengurutkan benda berdasarkan
ukuran panjang dengan memberikan benda nyata berupa tongkat kayu.
§ Konservasi adalah istilah Piaget untuk kemampuan anak mengenali
bahwa sifat benda tertentu (padat, isi, jumlah) tidak berubah walaupun terdapat
perubahan rupa benda itu. Misalnya untuk menguji kemampuan konservasi, guru
dapat memberikan tes volume. Sediakan dua gelas ukur yang sama (gelas A dan B)
dan diisi dengan volume yang sama. Lalu salah satunya yaitu gelas B isinya
dipindahkan ke gelas ukur C yang bentuknya berbeda (lebih tinggi dan kurus).
Maka anak yang berada pada tahap preoperasional akan menjawab air yang ada di
gelas ukur C lebih banyak. Sedangkan anak yang berada di operasional konkret
memahami volume air pada kedua gelas ukur itu sama.
5. Identifikasi Kemampuan Intelektual dan Kognitif Peserta Didik
Untuk mengetahui tahap perkembangan kognitif operasional konkret
menurut teori Piaget, guru dapat melaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut
ini.
a. Tes untuk mengetahui kemampuan konservasi
Contoh tes untuk
mengetahui kemampuan konservasi (untuk peserta didik kelas awal): berikan dua
bola dari tanah liat atau lilin yang memiliki jumlah yang sama. Salah satu bola
itu dipipihkan menjadi bentuk yang panjang, lalu berikan pertanyaan mana yang
paling banyak tanah liatnya atau lilinnya. Anak yang berusia 7 atau 8 delapan
tahun, kemungkinan besar akan menjawab bahwa jumlah lempung dalam kedua bentuk
itu sama.
b. Tes untuk mengetahui kemampuan klasifikasi
Untuk
mengetahui kemampuan klasifikasi, contohnya berikan tes pohon keluarga dari
empat generasi, A mempunyai anak dua orang yaitu B dan C, B dan C mempunyai
anak masing- masing dua orang (D-E, F-G, I-J), J mempunyai anak dua orang yaitu
K-L. Untuk anak yang sudah berada pada tahap operasional konkret akan mampu
menjawab bahwa J adalah cucu A dan sekaligus ayah dari K-L.
c. Identifikasi kemampuan logis
Anak
diberikan tiga batang lidi yang berbeda panjangnya (A, B, C). Lidi A paling panjang,
lidi B panjangnya menengah, dan lidi C paling pendek. Peserta didik yang berada
pada tahap perkembangan operasional konkret dapat memahami A>B, dan B>C,
maka A>C (Santrock, 2010:54).
6. Implikasi terhadap Pembelajaran
Upaya guru dalam memfasilitasi keragaman kemampuan berpikir siswa adalah
sebagai berikut.
a. Identifikasi kemampuan intelektual peserta didik.
b. Pahami tingkat perkembangan kognitif peserta didik
c. Ciptakan iklim pembelajaran yang kondusif atau sesuai bagi
perkembangan kemampuan intelektual dan kognitif peserta didik secara optimal,
yaitu iklim yang demokratis, hangat, ada rasa aman dan bebas dari ketegangan, menyenangkan
, serta yang mendorong untuk bersaing dengan dirinya sendiri.
d. Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman kecerdasan dan
tingkat perkembangan berpikir peserta didik. Menurut Santrock (2010:61)
strategi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir (teori Piaget)
antara lain:
1) Gunakan pendekatan
konstruktivisme, anak-anak akan belajar lebih baik, mereka aktif dan mencari
solusi.
2) Rancang situasi yang membuat
anak belajar melalui tindakan/kegiatan.
3) Jadikan ruang kelas menjadi
ruang eksplorasi dan penemuan sehingga dapat membuat kesimpulan sendiri.
4) Libatkan anak dalam tugas
operasional yang meliputi penjumlahan, pengurangan, pembagian, pengurutan,
pembalikan dengan menggunakan benda-benda konkret dan disesuaikan dengan
pengalaman kehidupannya.
5) Buat aktivitas untuk berlatih
konsep pengurutan hierarki, misal dengan mengurutkan dari yang terkecil ke yang
terbesar dan kebalikannya.
6) Ajak anak untuk kerja kelompok
dan berdiskusi.
7) Untuk pembelajaran materi yang
agak kompleks gunakan alat bantu visual dan alat peraga.
8) Terima peserta didik apa
adanya (unconditional positive regard acceptance) dan berempati kepada
peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual kurang memadai.
9) Rancang pembelajaran yang
dapat memancing rasa ingin tahu anak atau bertanya.
10) Beri kesempatan kepada semua peserta didik untuk memperoleh
pengalaman keberhasilan sebesar/setingkat apapun dalam pembelajaran untuk pembentukan
konsep diri yang positif dan memiliki sikap positif terhadap pelajaran.
11) Saat pembelajaran, berikan pertanyaan kepada peserta didik yang
sesuai dengan
kemampuan intelektualnya.
kemampuan intelektualnya.
..................................................................................................................................................................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar