Kamis, 28 September 2017

Perkembangan Kemampuan Intelektual

Perkembangan Kemampuan Intelektual
(Ringkasan Materi KP 4 Modul A Pedagogik Program PKB 2017)



1.    Perkembangan Kemampuan Intelektual
Intelligensi atau kemampuan intelektual merupakan kecakapan yang masih terkandung dalam diri seseorang yang diperoleh melalui faktor keturunan, namun beberapa penelitian menunjukkan dalam perkembangannya dipengaruhi oleh lingkungan. Kualitas lingkungan sangat mempengaruhi kualitas perkembangan kemampuan intelektual anak. Semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi pula IQ anak. Tiga unsur penting dalam keluarga yang berpengaruh terhadap perkembangan inteligensi anak berdasarkan hasil penelitian ini adalah,
a.         Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat di lingkungan keluarga
b.        Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orangtua atas prestasi akademik anak
c.         Harapan orangtua akan prestasi akademik anak.
Selain itu, variasi dalam stimulus adalah bagian terpenting dari lingkungan dan belajar untuk perkembangan inteligensi anak. Menurut Kolesnik (Djamarah, 2002:101) inteligensi dikaitkan dengan keberhasilan peserta didik dalam bidang akademik di sekolah. Peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual tinggi atau IQ tinggi diprediksi akan memiliki prestasi belajar yang tinggi pula, dan sebaliknya.

2.    Keragaman Peserta Didik dalam Kemampuan Intelektual
Peserta didik memiliki keragaman individual dalam kemampuan intelektual atau intelgensi. Tingkat intelegensi (Intelelligence Quotient atau IQ) merupakan satuan untuk menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang, yang diperoleh melalui tes inteligensi yang dilakukan oleh psokolog.
Tabel 1. Pengelompokan Anak berdasarkan Penyebaran IQ
IQ
Klasifikasi
%
Keterangan
140-…
Genius
0,25
Berkemampuan yang sangat luar biasa. Umumnya mampu memecahkan masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun mereka tidak bersekolah.
130-139
Sangat cerdas
0,75
Anak-anak yang sangat cerdas lebih cakap dalam membaca, memiliki pengetahuan bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang luas dan cepat memahami pengertian yang abstrak. Umumnya, faktor kesehatan, kekuatan, dan ketangkasan lebih menonjol daripada anak normal.
120-129
Cerdas
6,0
Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik, seringkali mereka berada di kelas biasa. Pimpinan kelas biasanya berasal dari kelompok ini.
110-119
Normal tinggi
13,0
Kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal, namun pada tingkat yang tinggi
90-109
Normal
60,0
Kelompok ini merupakan kelompok rata-rata atau normal (average), dan merupakan kelompok terbesar persentasenya dari populasi penduduk.
80-89
Normal rendah
13,0
Kelompok ini termasuk kelompok normal, rata-rata atau sedang namun pada tingkat terbawah, belajarnya agak lamban. Mereka dapat menyelesaikan sekolah tingkat SLP, akan tetapi menghadapi kesulitan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas di SLA.
70-79
Bodoh
6,0
Kelompok ini berada di perbatasan antara kelompok terbelakang dan kelompok normal. Anak kelompok ini dapat bersekolah di SLP, meskipun mengalami banyak kesulitan dan hambatan, akan tetapi sulit sekali menyelesaikan di kelas-kelas terakhir SLP.
50-69
Tunagrahita ringan
0,75
Anak debil sampai batas tertentu dapat belajar membaca, menulis, dan melakukan perhitungan-perhitungan yang sederhana dapat diberikan pekerjaan rutin yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan. Anak debil banyak bersekolah di SLB.
30-40
Tunagrahita sedang
0,20
Kecerdasannya sama dengan anak normal usia 7 tahun. Anak imbesil tidak bisa dididik di sekolah biasa.
0-29
Tunagrahita berat
0,05
Idiot merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah. Jarang ditemukan baik di sekolah umum maupun sekolah luar biasa

3.    Tahapan Perkembangan Berpikir
Kemampuan berpikir dikenal sebagai perkembangan kognitif. Kognitif berhubungan dengan kognisi, sedangkan kognisi merupakan kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Kemampuan kognitif yaitu penampilan yang dapat diamati dari aktivitas mental (otak) untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman sendiri.
Teori perkembangan kognitif dikemukakan oleh Piaget, seorang psikolog berkembangsaan Swiss. Menurut Piaget (Santrock, 2010:46) dalam memahami dunia mereka secara aktif, anak akan menggunakan skema (struktur kognitif). Skema adalah konsep atau kerangka yang ada dalam pikiran anak yang digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Dalam perkembangan fungsi-fungsi kognitif berlangsung mengikuti prinsip mencari keseimbangan (equilibrium) dengan menggunakan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
a.  Asimiliasi digunakan apabila individu memandang bahwa hal-hal yang baru dapat disesuaikan dengan kerangka berpikir yang dimilikinya (struktur kognitif), atau memasukan pengetahuan yang baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Contoh, seorang anak yang belum pernah mengoperasikan komputer, mengetahui cara menghidupkan komputer dengan menekan tombol berdasarkan hasil pengalaman dan pengamatannya. Perilaku ini sesuai dengan kerangka berpikirnya (asimilasi).
b.    Akomodasi digunakan apabila individu memandang bahwa objek-objek atau masalah yang baru tidak dapat diselesaikan dengan kerangka berpikir yang telah ada, maka ia akan mengubah kerangka berpikirnya. Akomodasi terjadi ketika anak harus menyesuaikan diri dengan informasi baru. Contoh, ketika lebih lanjut menekan tombol-tombol lainnya ia melakukan kesalahan, ia menyadari membutuhkan bantuan untuk mempelajari cara mengoperasikan komputer dari orang lain, mungkin dari teman atau guru. Penyesuaian yang dilakukan anak dalam pendekatan ini menunjukkan kesadaran akan perlunya mengubah kerangka berpikirnya (akomodasi).
Tabel 2. Tahapan Piaget mengenai Perkembangan Intelektual
Tahapan
Karakteristik
Sensorimotor (sejak kelahiran s.d usia 2 thn)
§  Membedakan diri sendiri dengan setiap objek .
§    Mengenal diri sebagai pelaku kegiatan dan mulai bertindak dengan tujuan tertentu, misalnya menarik seutas tali untuk menggerakkan sebuah mobil atau menggoncangkan mainan supaya bersuara.
§     Menguasai keadaan tetap dari objek (object permanence).
§     Menyadari bahwa benda tetap ada meskipun tidak lagi terjangkau oleh indra.
Preoperasional (2 – 7 tahun)
§    Terdiri atas sub tahap fungsi simbolis (2-4thn) dan sub tahap pemikiran intuitif (4-7 thn).
§     Belajar menggunakan bahasa dan menggambarkan objek dengan imajinasi dan kata-kata.
§     Berpikir masih bersifat egosentris mempunyai kesulitan menerima pandangan orang lain.
§     Mengklasifikasikan objek menurut tanda, misalnya: mengelompokkan semua balok merah tanpa memperhatikan bentuknya atau semua balok persegi tanpa memperhatikan warnanya.
Operasional konkret (7 – 11 atau12 tahun)
§     Mampu berpikir logis mengenai objek dan kejadian meskipun masih terikat objek-objek yang bersifat konkret.
§     Menguasai konservasi jumlah (usia 7 tahun), jumlah tak terbatas (usia 7 tahun), dan berat (usia 9 tahun).
§     Mengklasifikasikan objek menurut beberapa tanda dan menyusunnya dalam suatu seri berdasarkan satu dimensi, seperti ukuran.
Operasional formal 11,0 atau 12,0–14,0 atau 15,0 Tahun)
§     Mampu berpikir logis mengenai soal abstrak serta menguji hipotesis secara sistematis.
§     Menaruh perhatian terhadap masalah hipotesis, masa depan, dan masalah ideologis

4.    Karakteristik Perkembangan Kognitif Peserta Didik Usia Sekolah
Peserta didik sekolah dasar pada umumnya berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret (7 – 11 tahun). Pada tahap ini anak berpikir secara operasional dan penalaran logis menggantikan penalaran intuitif, meskipun masih bersifat konkret, artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa nyata. Pada masa ini juga anak sudah mampu menggolongkan (mengklasifikasi) dan mengkonservasi namun belum mampu memecahkan masalah yang bersifat abstrak.
§ Penalaran logis pada pemikir operasional konkret yaitu dapat menyimpulkan dari suatu kondisi/masalah yang disajikan. Misalnya, jika guru ingin mengajarkan kepada peserta didik untuk menyimpulkan jika benda A>B, dan B>C maka A>C, maka guru harus memberikan benda nyata berupa balok kayu dengan ukuran balok A paling besar, balok B besarnya menengah dan C paling kecil.
§   Klasifikasi yaitu kecakapan anak melihat secara logis persamaan–persamaan suatu kelompok objek dan memilihnya berdasarkan ciri-ciri yang sama. Contoh kemampuan dalam klasifikasi, peserta didik kelas awal dapat mengurutkan benda berdasarkan ukuran panjang dengan memberikan benda nyata berupa tongkat kayu.
§   Konservasi adalah istilah Piaget untuk kemampuan anak mengenali bahwa sifat benda tertentu (padat, isi, jumlah) tidak berubah walaupun terdapat perubahan rupa benda itu. Misalnya untuk menguji kemampuan konservasi, guru dapat memberikan tes volume. Sediakan dua gelas ukur yang sama (gelas A dan B) dan diisi dengan volume yang sama. Lalu salah satunya yaitu gelas B isinya dipindahkan ke gelas ukur C yang bentuknya berbeda (lebih tinggi dan kurus). Maka anak yang berada pada tahap preoperasional akan menjawab air yang ada di gelas ukur C lebih banyak. Sedangkan anak yang berada di operasional konkret memahami volume air pada kedua gelas ukur itu sama.

5.    Identifikasi Kemampuan Intelektual dan Kognitif Peserta Didik
Untuk mengetahui tahap perkembangan kognitif operasional konkret menurut teori Piaget, guru dapat melaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut ini.
a.    Tes untuk mengetahui kemampuan konservasi
Contoh tes untuk mengetahui kemampuan konservasi (untuk peserta didik kelas awal): berikan dua bola dari tanah liat atau lilin yang memiliki jumlah yang sama. Salah satu bola itu dipipihkan menjadi bentuk yang panjang, lalu berikan pertanyaan mana yang paling banyak tanah liatnya atau lilinnya. Anak yang berusia 7 atau 8 delapan tahun, kemungkinan besar akan menjawab bahwa jumlah lempung dalam kedua bentuk itu sama.
b.   Tes untuk mengetahui kemampuan klasifikasi
Untuk mengetahui kemampuan klasifikasi, contohnya berikan tes pohon keluarga dari empat generasi, A mempunyai anak dua orang yaitu B dan C, B dan C mempunyai anak masing- masing dua orang (D-E, F-G, I-J), J mempunyai anak dua orang yaitu K-L. Untuk anak yang sudah berada pada tahap operasional konkret akan mampu menjawab bahwa J adalah cucu A dan sekaligus ayah dari K-L.
c.    Identifikasi kemampuan logis
Anak diberikan tiga batang lidi yang berbeda panjangnya (A, B, C). Lidi A paling panjang, lidi B panjangnya menengah, dan lidi C paling pendek. Peserta didik yang berada pada tahap perkembangan operasional konkret dapat memahami A>B, dan B>C, maka A>C (Santrock, 2010:54).
6.    Implikasi terhadap Pembelajaran
Upaya guru dalam memfasilitasi keragaman kemampuan berpikir siswa adalah sebagai berikut.
a.    Identifikasi kemampuan intelektual peserta didik.
b.    Pahami tingkat perkembangan kognitif peserta didik
c. Ciptakan iklim pembelajaran yang kondusif atau sesuai bagi perkembangan kemampuan intelektual dan kognitif peserta didik secara optimal, yaitu iklim yang demokratis, hangat, ada rasa aman dan bebas dari ketegangan, menyenangkan , serta yang mendorong untuk bersaing dengan dirinya sendiri.
d.  Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman kecerdasan dan tingkat perkembangan berpikir peserta didik. Menurut Santrock (2010:61) strategi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir (teori Piaget) antara lain:
1)     Gunakan pendekatan konstruktivisme, anak-anak akan belajar lebih baik, mereka aktif dan mencari solusi.
2)      Rancang situasi yang membuat anak belajar melalui tindakan/kegiatan.
3)  Jadikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi dan penemuan sehingga dapat membuat kesimpulan sendiri.
4) Libatkan anak dalam tugas operasional yang meliputi penjumlahan, pengurangan, pembagian, pengurutan, pembalikan dengan menggunakan benda-benda konkret dan disesuaikan dengan pengalaman kehidupannya.
5)    Buat aktivitas untuk berlatih konsep pengurutan hierarki, misal dengan mengurutkan dari yang terkecil ke yang terbesar dan kebalikannya.
6)      Ajak anak untuk kerja kelompok dan berdiskusi.
7)      Untuk pembelajaran materi yang agak kompleks gunakan alat bantu visual dan alat peraga.
8)     Terima peserta didik apa adanya (unconditional positive regard acceptance) dan berempati kepada peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual kurang memadai.
9)      Rancang pembelajaran yang dapat memancing rasa ingin tahu anak atau bertanya.
10)  Beri kesempatan kepada semua peserta didik untuk memperoleh pengalaman keberhasilan sebesar/setingkat apapun dalam pembelajaran untuk pembentukan konsep diri yang positif dan memiliki sikap positif terhadap pelajaran.
11)    Saat pembelajaran, berikan pertanyaan kepada peserta didik yang sesuai dengan
kemampuan intelektualnya.


 ..................................................................................................................................................................

G+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar